WAWANCARA KHUSUS

Gubernur BI: Kondisi Rupiah Mulai Sehat

Indonesia dihadapkan pada dilema. Keputusan apa yang dipilih?

ddd
Minggu, 11 Agustus 2013, 19:09
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (VIVAnews/Adri Irianto)

VIVAnews - Nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, beberapa waktu lalu terus mengalami tekanan. Sesungguhnya apa yang sedang terjadi dengan ekonomi Indonesia, sehingga rupiah terus terkoreksi. Apa saja langkah yang dilakukan Bank Indonesia demi menjaga nilai tukar rupiah itu dan menjaga stabilitas di sektor keuangan? 

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, menekankan bahwa kurs rupiah sedang menuju keseimbangan yang baru dan bank Indonesia sudah menempuh sejumlah langkah penting. Dan kini, katanya, rupiah sudah mulai sehat. 

Berikut petikan wawancara dengan Gubernur BI pada saat acara berbuka bersama dengan sejumlah pemimpin redaksi media massa di Jakarta14 Juli 2013. Beberapa pertanyaan dalam wawancara ini datang dari sejumlah pemimpin redaksi yang hadir dalam acara itu. Di sela-sela acara buka puasa itu, Wakil Pemimpin Redaksi VIVA.co.id, Mohamad Teguh berkesempatan menyampaikan sejumlah pertanyaan lain kepada Agus Martowardojo. Berikut petikannya.

Wajah Anda tampak lebih segar setelah menjadi Gubernur Bank Indonesia. Apa penyebabnya?

Hahaha...mungkin karena jabatan yang sekarang lebih independen.

Bukan karena take home pay lebih bagus?
Hahaha...

Bisa Anda jelaskan kondisi makro ekonomi Indonesia terkini?

Pertama, secara global risiko perlambatan perekonomian dunia masih berlanjut, koreksi harga komoditas cukup besar dan sentimen di pasar keuangan terkait tapering off quantitative easing (pelambatan atau penghentian pelonggaran moneter) oleh Bank Sentral Amerika Serikat.

Kondisi sentimen global yang terkait penghentian pelonggaran moneter di Amerika ini mengakibatkan aliran dana ke luar dari Indonesia dan memberikan tekanan terhadap rupiah.

Kedua, situasi di dalam negeri. Defisit transaksi berjalan masih berlanjut sebagai dampak penurunan permintaan global dan penurunan harga komoditas.

Selain itu, ada resiko perlambatan pertumbuhan ekonomi. Pada saat yang bersamaan inflasi ke depan terus meningkat pasca keputusan kenaikan harga BBM, meski dampaknya diperkirakan hanya temporer.

Terkait SSK (Stabilitas Sistem Kuangan), ada beberapa hal yang perlu diperhatika seperti kepercayaan di pasar keuangan, koreksi di harga saham, kenaikan yield Surat Berharga Negara dan aliran dana keluar dari investor asing.

Hal lain adalah berlanjutnya akselerasi kenaikan harga properti dan kredit perbankan yang disalurkan di sektor properti.

Bagaimana proyeksi pertumbuhan ekonomi global?

Ada konsensus forecast pada Desember 2012 dari 24 intitusi keuangan dunia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 3,4 persen.
Di bulan April pertumbuhan ekonomi global masih 3,4 persen, ternyata di Juli turun menjadi 3,2 persen. Jadi memang ada penurunan secara global.

Nah sekarang kita lihat kondisi perekonomian beberapa negara besar. Di Amerika memang ada sedikit penurunan, yang semula diprediksi pada April naik dari 1,9 persen menjadi 2,1 persen, kemudian direvisi lagi menjadi 1,9 persen.

Di Eropa yang memang kondisinya masih tertekan, dua negara andalannya-- Jerman dan Prancis--ternyata ekonominya ada koreksi ke bawah, masing-masing dari 0,7 persen menjadi 0,4 persen dan minus 0,1 persen jadi minus 0,3.

Yang menarik adalah China dan India. China yang selama 15 tahun terakhir tumbuh di atas 10 persen, tahun ini turun dari 8,2 persen menjadi 7,5 persen. India juga demikian dari 6,1 persen menjadi 5,9 persen.  Jadi semua ini membuat para analis dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,2 persen. Kita tahu bahwa ekspor Indonesia pada negara-negara tersebut, seperti China misalnya, cukup besar. 

Gabungan antara kondisi perekonomian global dalam negeri itulah yang membuat rupiah tertekan dalam beberapa bulan terakhir.

Bagaimana dengan harga komoditas Indonesia di luar negeri?

Kita mengikuti perkembangan harga 8 komoditas utama Indonesia. Khusus untuk pasar future, pada tahun lalu minus 18 persen dan tahun 2013 diperkirakan minus 12 persen. Bahkan pada tahun 2014 diperkirakan masih ada penurunan.

Kalau kita lihat ekspor non-migas Indonesia pada 2012 minus 14,9 persen. Ini menunjukkan bahwa ekspor non migas kita masih turun meski ekspor migas masih sedikit meningkat.  Ini juga yang menyebabkan defisit neraca perdagangan kita membesar.

Kemudian, seiring dengan munculnya isu penghentian pelonggaran moneter oleh bank sentral Amerika Serikat, di Indonesia kita melihat terjadinya aliran dana keluar akibat perpindahan portofolio investor asing dari pasar saham dan Surat Utang Negara.

Dan semua ini terjadi mulai pada 22 Mei 2013 karena diperkirakan stimulus moneter dihentikan di Amerika. Langsung dana keluar dari Indonesia. Kami katakan bahwa hingga bulan Juni arus devisa keluar sudah mencapai US$4,1 miliar dolar.

Namun, pada bulan Juli 2013, mulai ada penurunan aliran modal keluar. Dan aliran modal keluar tercatat hanya US$227 juta. Ini sudah jauh lebih baik dibanding minus US$4,1 miliar. Dan cadangan devisa hingga kini tercatat turun dari tadinya US$105 miliar dolar menjadi US$98 miliar dolar.

Pada 23 Juli 2013, ketika rupiah pada kisaran Rp10.180-Rp10.220 per dolar Amerika, Anda menyatakan rupiah mulai konvergen ke level keseimbangan baru yang mencerminkan fundamental perekonomian. Sangat jarang bank sentral memberikan policy direction begitu jelas terhadap nilai kurs. Apakah ini berarti Anda akan menjaga rupiah tetap di level itu?

Kalau tadi dibilang bahwa itu ekuilibrium baru, sebenarnya tidak seperti itu yang saya sampaikan. Yang saya katakan adalah bahwa dalam beberapa hari ini pergerakan rupiah sudah konvergen menuju ekuilibrium baru yang mencerminkan fundamental ekonomi kita.

Karena pada tahun 2005, terlepas dari isu di Amerika yang membuat capital reversal besar, itu menekan kurs. Di dalam negeri, pada tahun 2005  defisit neraca berjalan hanya terjadi satu kali. Tahun 2008 terjadi tiga kali. Ini sekarang sudah terjadi 7 kali. Ini mesti diperhitungkan.

Dan inflasi yang sudah bisa diteken di bawah 5 persen, tahun ini meningkat menjadi 7-8 persen.

Nah yang saya mau katakan sekarang ini kelihatannya pelaku pasar sudah mulai nyaman. Kita sudah mencapai kondisi yang mencerminkan fundamental.

Jika dikatakan rupiah sudah menuju keseimbangan baru mengapa Anda menaikkan BI Rate?

Kenaikan BI Rate tidak bisa dihindari. Di dalam negeri saat itu [sebelum BBM dinaikkan] ada twin deficit. Maksudnya, fiskal masih defisit karena BBM belum bisa dinaikkan--karena APBN belum disetujui--dan ada defisit transaksi berjalan.

Padahal semua orang tahu bahwa BBM akan dinaikkan dan ekpektasi pasar terhadap inflasi juga sudah naik. Kalau itu didiamkan akan buruk terhadap stabilitas keuangan kita.  Bahkan saat itu, 22 Mei 2013, sudah ada pengumuman pelonggaran moneter di Amerika akan dihentikan.

Jadi kami mau memberi pesan kepada pasar bahwa kita tidak mau mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Kita berikan pesan bahwa BI Rate dinaikkan dan besarnya 25 bps saja. Sambil  menunggu apakah BBM dinaikkan atau tidak.

Dan BBM kemudian dinaikkan, tapi di bulan Juni posisi inflasi sudah mulai tinggi inflasi. Kami ambil posisi bahwa ini mesti direspon. Kami respon dengan menaikkan BI Rate 50 bps.

BI menaikkan suku bunga sebesar itu karena kita melihat ada potensi inflasi dan kami ingin nilai tukar terjaga karena ada faktor yang tidak pasti.

Kurs rupiah kami kendalikan. Kami juga mesti menjaga persepsi bahwa likuiditas valas tersedia. Dan kami harus meyakinkan pasar bahwa kurs yang baik adalah yang mencerminkan fundamental ekonomi dan harga valas di pasar.

Kami merasa level itu akan memadai kalau tidak ada kondisi yang meleset, dengan asumsi pemerintah akan menjaga kenaikan harga-harga agar terkendali.

Dari sisi nilai tukar rupiah kita melihat faktor utamanya adalah kondisi di luar dan kawasan yang semua kena. Dan pada saat yang bersamaan inflasi masih tinggi.

Melihat situasi tersebut, kami tidak mau cadangan devisa kita harus tetap US$115 miliar. Cadangan devisa kita sekarang ini masih cukup 5,4 bulan impor, jika kita keluarkan faktor utang luar negeri besarnya 5,5 bulan impor.

Bandingkan dengan tahun 2005 dan tahun 2008 yang hanya 3 bulan impor. Dan pada tahun tersebut nilai tukar pernah mencapai Rp12.000/US$.

Tetapi untuk kondisi saat ini kita juga tidak mau memastikan kepada pasar bahwa rupiah harus di bawah Rp10.000/US$, pada saat negara-negara lain depresiasi nilai tukarnya sudah mencapai 13 persen. Kurs rupiah saat ini depresiasinya lebih kecil, sekitar 5,7 persen dibanding penutupan tahun 2012.

Bisakah saya katakan bahwa Anda lebih menyukai menghabiskan cadangan devisa dibandingkan memainkan suku bunga untuk mempertahankan kurs rupiah?

Tidak! Sekali lagi saya tegaskan, kami menggunakan bauran kebijakan, tidak hanya cadangan devisa. Cadangan devisa memang tergerus dari US$105 miliar menjadi US$98 miliar antara lain untuk intervensi ke pasar.

Bahwa kami tidak menaikkan suku bunga BI Rate secara agresif, itu karena kanaikan suku bunga biayanya terhadap keseluruhan perekonomian akan sangat besar.

Jika kami memainkan suku bunga secara agresif, perbankan akan dengan sangat cepat menaikkan suku bunganya. Sementara kalau suku bunga nanti kemudian kami turunkan, perbankan tidak akan cepat merespon dengan lantas menurunkan bunganya. Dibutuhkan waktu yang lama untuk turun kembali.

Bagaimana peranan instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dalam membantu menstabilkan nilai tukar rupiah?

Begini ya, harga SBN kita saat ini yield-nya paling tinggi di Asia. Semula memang Turki yang paling tinggi, Indonesia kedua. Tetapi belakangan Indonesia yang tertinggi yield-nya sampai 260 bps.

Jika kita bandingkan dengan kondisi awal tahun 2013, harga SBN kita sudah sangat murah, jadi pasti akan ada investor asing yang akan membeli.

Tetapi di pasar kita lihat permintaan akan dolar masih tinggi dan yang meminta adalah korporasi, retail, repatriasi keuntungan, membayar deviden dan berbagai keperluan lain. Dan pasar valas merespon permintaan dolar itu hanya pada kurs rupiah yang sudah terdepresiasi.

Jadi kembali lagi, yang saya katakan rupiah menuju keseimbangan baru adalah bahwa dalam beberapa hari terakhir ini pasar transaksi valas semakin bergairah dan itu menunjukkan kondisi yang sehat.

Karena sebelumnya silent semua, tidak ada yang offer dolar. Sehingga kalau kita cek pada investor institusi yang akan membeli SBN, kami katakan concern utama kami adalah pada tidak tersedianya likuiditas dolar.

Apa itu likuiditas? Kalau kita tidak realistis dengan nilai tukar kita maka likuiditas dolar makin tidak ada. Jadi kami mesti siapkan masyarakat bahwa nilai tukar menuju ekulibrium yang baru.

Jadi yang saya mau katakan, bulan Juni sudah kita lewati. Bulan itu di mana aliran valas keluar yang sangat besar sudah dilewati.

Sekarang kondisi kita sudah jauh lebih baik. Apalagi jika kita lihat keuntungan SBN yang lebih tinggi. Karena SBN sudah menguntungkan. Dalam arti, jika orang membeli atau investasi di SBN, tempo hari yield SBN-10 tahun sudah 8 persen lebih. Pernah turun di bawah 8 persen. Sekarang 7,5 persen lah.

Kalau diperhitungan dengan kenaikan inflasi jangka pendek, yield itu sudah menguntungkan investor. Dari perhitungan nilai tukar, bagi orang asing, mereka akan membawa dolar, jual dolar dan membeli rupiah pada kurs sekarang.

Bagi investor asing, jika perhitungan mereka rupiah masih stabil, mereka pasti tetap masuk. Kalau tidak ya...mereka wait and see. Apalagi dalam konteks sekarang di pasar keuangan global sendiri ada isu tapering off segala macem. Semua orang ingin safety, pegang cash.

Bagi pelaku dalam negeri, investasi SBN jelas sangat menguntungkan karena mereka tidak hadapi risiko kurs. Sedangkan investor asing mereka masih menebak-nebak kurs.

Makanya kami keluarkan lelang FX Swap. Itu meng-address isu kedua, yaitu investor asing dan eksportir yang wait and see. Bagi eksportir yang punya dolar, mereka butuh rupiah untuk bayar gaji, tapi 3 bulan 6 bulan butuh dolar lagi. Maka kami bisa lelang FX Swap untuk memenuhi kebutuhan dolar mereka.

Jadi mereka bisa menjual dolar sekarang, sebulan atau 3-6 bulan yang akan datang dolarnya tetap akan utuh dengan perhitungan harga yg sudah pasti.

Lelang SBN dalam minggu terakhir ini selalu oversubscibed karena pelaku domestik banyak memburu. Sementara pasokan SBN masih terbatas. Banyak yang ingin beli.

Bank Sentral akan menaikkan BI Rate hingga berapa?

[Pertanyaan ini dijawab oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo]

BI Rate sebenarnya dari ukuran-ukuran perhitungan kami, kenaikan 75 bps itu cukup. Saya pribadi sebenarnya ingin bilang, dari sisi itu kami sudah pre-emptive, kenaikan bunga 75 bps itu cukup sampai akhir tahun.

Inflasi sebenarnya setelah September, Oktober biasa turun, kami perlu mereview lagi. Bahkan bisa diturunkan.

Jadi pas stabilitas terjaga, kami punya pilihan triwulan empat atau awal tahun 2014, bisa memilih lagi untuk mendorong pertumbuhan. Konteksnya seperti itu.

Yang kedua yang susah membuat settle itu pada nilai tukar rupiah. Dalam perhitungan kami, dari besarnya defisit neraca berjalan, pertumbuhan, dan inflasi, maka nilai tukar triwulan dua rata2 Rp10.000/US$ itu sebenarnya  merupakan fair value.

Di pasar keuangan permainan persepsi sangat sulit dikelola, makanya dari level sebelumnya ke ekluibrium baru, tidak bisa langsung lompat.

Pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono defisit neraca berjalan mencapai jumlah tertinggi sepanjang sejarah, mengapa tidak turun-turun?

Saya kira harus kita dudukkan dalam perspektif perekonomian sekarang.  Prediksi BI tahun ini pertumbuhan ekonomi 5,8-6,2 persen, mid-nya 6 persen. Kalau mesin ekonomi kami genjot sebenarnya bisa 6,7 persen potensialnya. Jadi sebenarnya bisa lebih cepat. 

Cuma, kalau dibandingkan negara lain yang dalam 2-3 tahun menurun--China turun terus, dan India juga turun--pertumbuhan ekonomi kita yang 6 persen itu lajunya masih terlalu cepat.

Nah, kenapa defisit neraca berjalan kita besar dan tidak turun-turun? Kalau secara total defisit tahun lalu US$24 miliar atau sekitar 2,7 persen
dari PDB. Tahun ini memang masih akan tetap tinggi, perkiraan kami volumenya bisa naik menjadi sekitar US$28,6 miliar atau 2,9 persen dari PDB.

Ini menunjukkan bahwa kita dihadapkan pada dilema. Apakah kita ingin tetap hidup dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen lebih, tapi dengan konsekuensi defisit current account akan terus meledak? Atau pertumbuhan tidak terlalu tinggi tapi defisit terjaga?

Ini memang pilihan yang sangat berat. Kalau kita pilih yang pertama, akibatnya rupiah tidak akan terkontrol.  Kemarin permasalahannya lebih berat, kenaikan BBM dan ada penarikan dana yang besar-besaranan dari emerging market, bukan hanya Indonesia. Juni kemarin penarikan dana dari emerging market besar sekali, US$67 miliar. Sedangkan dari Indonesia keluar US$4,1 miliar.

Itulah kondisi neraca pembayaran kita. Jadi dengan kondisi ini, apakah kita ingin tetap mendorong pertumbuhan ekonomi atau stabilitas?  Sebenarnya stabilitas itu keniscayaan, karena kalau inflasi dan nilai tukar terus naik, mungkin pertumbuhan ekonomi tidak akan naik lagi. Yang kami lakukan dari sisi BI, setelah merespon kebijakan BBM pemerintah, kami ingin membawa ke ekuilibrium yang baru.

Terus terang, kami melihatnya pertumbuhan tidak perlu lebih tinggi dari 6 persen. Tapi defisit neraca berjalan lebih sustainable.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id