WAWANCARA KHUSUS

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan:

"Melonjaknya Harga Daging Persoalan Sederhana"

Pemimpin itu harus mengerti permasalahan dan menyelesaikannya.

ddd
Selasa, 23 Juli 2013, 00:09
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)
VIVAnews - Harga sejumlah bahan pangan masih mencekik konsumen di dalam negeri. Bahkan, harga yang "menggila" itu disinyalir mencatat kenaikan tertinggi dibanding tahun lalu.

Komoditas pangan yang dibutuhkan masyarakat seperti bawang merah, daging sapi, telur ayam ras, dan daging ayam itu, makin meroket.

Pemerintah dan sejumlah pihak terkait memang tak tinggal diam. Mereka terus melakukan berbagai cara untuk menekan lonjakan harga-harga komoditas tersebut. Dari mendatangkan bahan pangan dari luar negeri, hingga menggelar pasar murah, dan memasok bahan-bahan komoditas tersebut. Tetapi harga belum kunjung turun.

VIVAnews mewawancarai Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, yang belakangan ini juga sibuk dengan berbagai kegiatan dalam rangka mengikuti konvensi Partai Demokrat untuk calon presiden.  

Berikut kutipannya:

Apa masalah sebenarnya sehingga harga daging melonjak demikian tinggi?
Ini sebenarnya masalah sederhana, soal pasokan dan permintaan. Pasokan terbatas, sementara permintaan tinggi, jadi harga melonjak.

Mengapa pemerintah bisa melakukan kesalahan dalam memperkirakan jumlah pasokan daging nasional?
Sudahlah. Anda kan sudah tahu penyebabnya. Kita tidak usah ungkit-ungkit lagi, yang penting kita cari solusinya bagaimana.

Bagaimana solusinya?
Ya tambah saja pasokannya. Itu solusinya...dengan impor daging.

Pemerintah sudah menugaskan Bulog untuk melakukan importasi daging, bagaimana realisasinya?
Bulog kami alokasikan untuk impor 3.000 ton. Rinciannya, 800 ton lewat udara, 2.200 ton lewat laut. Bulog akan menerima secara bertahap. Memang agak disayangkan, karena mereka menjadwalkan kedatangan 200-500 ton tahap awal lewat udara. Tapi, baru bisa 12 ton dan tambahan lagi 4 ton. Mereka janji untuk mengupayakan semaksimal mungkin dan langsung dipotong.

Harga daging sudah mulai turun?
Sudah mulai turun. Untuk daging sapi, keputusan di menko (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian) didatangkan sapi siap potong secukupnya. Yang 109 ribu ekor sudah mulai dipotong. Kami mengimbau pengusaha untuk akselerasi pemotongan supaya harga diturunkan. Dengan adanya sapi potong ini, akan membantu stabilitas harga.

Tapi, mengapa di beberapa tempat harga daging sapi masih tinggi? Kami akan melakukan stabilisasi harga untuk bisa mencapai harga rata-rata seperti tahun lalu, yakni Rp75.000 per kilogram. Kami sempat kecewa dengan pengusaha sapi dan pedagang yang sudah dapat alokasi 109 ribu ekor sapi, tetapi belum memotong secara cepat. Mereka masih menjual ke RPH (rumah pemotongan hewan) dalam bentuk karkas Rp37.000 per kilogram. Semestinya mereka masih bisa turunkan harga. Karena itu, kami ambil sikap untuk datangkan pasokan dari luar negeri dalam bentuk sapi siap potong.

Seperti apa upaya stabilisasi harga itu?
Kami bahas stabilisasi harga ini untuk jangka pendek, menengah, maupun panjang. Kami bicara mengenai perizinan satu atap, dan Menteri Pertanian sudah sepakat. Nantinya, kami akan mengacu pada Undang-Undang Peternakan. Rekomendasi teknis dari Kementerian Pertanian untuk impor hanya dilakukan setiap tahun. Tapi, yang menentukan siapa dan berapa kilogram dapatnya, itu di Kementerian Perdagangan. Soal ini, akan kami rancang dalam waktu dekat.

Pemerintah memutuskan tidak membatasi kuota impor daging sapi. Kapan mulai berlaku?
Tahun ini, dan kami usulkan ke depan tetap menghormati UU Peternakan, serta kepentingan peternak. Tapi, untuk melakukan importasi, mekanisme governance-nya diubah. Kami akan satu atapkan perizinan di Kementerian Perdagangan, dan siap untuk memberikan izin dalam waktu 5 hari, 6 hari, atau 7 hari. Kapan mau impor akan ditentukan berdasarkan proposal, dan menko menanggapi positif. Importasi akan dilakukan jika harga melewati batas tertentu.

Kami tidak akan melakukan impor kalau harga di bawah level tertentu. Kalau harga varietas itu plus 10-15 persen dan minus 10-15 persen. Jadi, kalau naik 10-15 persen, kami akan lakukan impor. Tapi, kalau turun 10-15 persen dari harga, kami tidak akan lakukan impor. Karena, kami mau lindungi kepentingan peternak juga.

Syarat-syarat impor itu nantinya berlaku sampai kapan?
Ini kami rancang untuk jangka menengah dan panjang. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, sekitar 1-2 bulan aturannya sudah selesai.

Ketentuan ini akan dituangkan dalam bentuk peraturan menteri?
Saya belum tahu, sekarang sedang dipikirkan. Tapi, ini akan mengacu UU Peternakan. Dan mudah-mudahan berlaku tahun ini. (Beberapa hari setelah wawancara, aturan mengenai syarat-syarat impor itu akhirnya dikeluarkan dalam bentuk Peraturan Menteri Perdagangan).

Persisnya, untuk tahun ini, berapa banyak tambahan kuota impor?
Tambahannya secukupnya untuk turunkan harga. Agar harga stabil, supaya masyarakat nggak komplain lagi. Termasuk untuk harga cabai rawit merah dan bawang merah. Saya mohon maaf, harga daging, cabai, bawang merah meningkat. Dengan impor ini, kami harapkan bisa stabilkan harga.

Apakah Anda melihat ada oknum yang mempermainkan harga?
Kami nggak melihat adanya oknum dalam skala tinggi. Ini memang karena kurangnya pasokan. Bulog memang kami berdayakan. Tapi, mereka harus meningkatkan kapasitas cold storage. Bulog sangat bisa diberdayakan dalam mendatangkan daging sapi lebih banyak untuk stabilisasi harga.

Sedangkan bawang merah karena anomali cuaca. Kemarau basah, panen mundur. Kementan menginfokan panen akhir Juli. Untuk sementara, kami datangkan dari luar. Cabai rawit juga mundur panennya. Makanya, harganya naik signifikan. Saya rasa tidak ada unsur spekulan yang perlu diwaspadai.

Pemerintah sudah mengecek ke pedagang?
Kami sudah cek, nggak ada penimbunan. Adanya yang tunggu izin teknis dari kementerian terkait untuk datangkan barang dari luar. Karena, pasokan dari dalam negeri berkurang. Ini harus kami sikapi bersama.

Apakah perlu undang-undang pengaturan harga?
Secara konsep ini perlu diperhatikan. Tapi, semua tetap berujung pada pasokan. Ada pematokan harga pada level tertentu, tapi pasokan sulit. Ini nanti bagaimana? Bisa jangkau harga, tapi nggak ada barangnya. Kalau nggak ada barang di dalam negeri, kan harus datangkan dari luar juga. Ini harus kita sikapi ke depan.

Bagaimana untuk komoditas lainnya, seperti cabai dan bawang?
Kalau bawang merah, panen tertunda karena kemarau basah. Jadi, kami harus datangkan dari luar. Kami sudah keluarkan izin impor bawang merah 17 ribu ton. Pengapalan pertama akan datang mungkin 2-3 ton sebelum akhir bulan. Cabai merah dan cabai rawit akan kami datangkan juga. Sudah keluarkan izin 9.700 ton dan akan datang minggu depan. Dengan pengiriman ini, kami akan turunkan harga secepatnya. Ini karena produksi dalam negeri turun, akibat gagal panen dan juga kemarau basah. Bawang putih kami datangkan sebagian dari 16 ribu ton yang direncanakan.

Daerah penghasil seperti Tegal, Brebes, dan Pemalang gagal panen, juga karena kemarau basah. Bawang putih sudah aman, di Jatim bahkan sudah 7.000-8.000 ton. Tapi, begitu panen terjadi, batasi importasi supaya stabilitas harga terjaga, dan petani bisa terlindungi. Kami harus antisipasi anomali cuaca. Selama ini kan tidak pernah diantisipasi dengan kementerian lain mengenai kondisi cuaca dan perubahannya itu.

Sedangkan untuk harga ayam?
Harga daging ayam berkorelasi dengan daging sapi, masih cukup tinggi. Saya mendapat laporan, kenaikan terjadi karena harga bahan baku pakan ayam, seperti jagung, juga meningkat. Ini mempengaruhi biaya produksi. Kalau harga daging sapi turun, akan berefek pada daging ayam.

Di luar masalah meroketnya berbagai harga pangan, Anda juga ikut konvensi Demokrat untuk calon presiden. Sejauh mana perkembangannya?
Belum diundang. Baru kriteria yang akan diumumkan. Insya Allah siap. Sekarang belum ada proses resminya.

Bagaimana jika konvensi ini sebenarnya sudah "ditetapkan" pemenangnya?
Tidak mungkin. Pemenang konvensi tidak ditetapkan karena yang menentukan kan rakyat. Ini kan pemilihan yang dilakukan dengan demokratis.

Artinya, pemenang konvensi semata-mata akan ditentukan dari hasil survei elektabilitas yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei?
Sepertinya seperti itu. 

Lalu, bagaimana Anda melihat peluangnya?
Peluang itu akan besar bagi kandidat yang populer. Dan, yang paling penting juga, tidak hanya populer, tetapi dapat merealisasikan visinya.

Apa alasan Anda untuk tetap maju sebagai capres?
Salah satu faktor yang mendorong saya untuk maju sebenarnya adalah menjadi "enabler" bagi 250 juta masyarakat Indonesia. Untuk memfasilitasi dan menunjukkan adanya kemungkinan dan kesempatan kepada seluruh warga negara Indonesia. Baik laki-laki maupun perempuan, yang memiliki kepiawaian dan kemampuan untuk memimpin. Ini untuk menunjukkan mereka juga bisa menjadi pemimpin bangsa.

Paradigma yang saya lihat adalah di Indonesia ada 250 juta orang yang bisa dipilih, bukan 250 juta orang yang memilih. Melalui paradigma itu, diharapkan nantinya akan muncul tokoh-tokoh baru atau sosok baru yang berpotensi besar menjadi calon pemimpin bangsa di masa depan. Siapa pun bisa menjadi pemimpin bangsa ini, selama ia mengerti permasalahan yang terjadi di dalam negeri dan mampu menyelesaikannya. Selain itu, mampu mengomunikasikannya kepada dunia internasional dengan cara yang membanggakan.

Sudah sejauh mana persiapan Anda?
Terkait dengan persiapan, sejauh ini belum ada persiapan apa pun. Karena fokus saya sekarang adalah bagaimana cara menurunkan harga daging sapi, cabai merah, dan cabai rawit. Namun, jika memang sudah ada permintaan resmi pencalonan presiden tersebut, tentunya saya akan lebih mempersiapkan lagi.

Beberapa orang disebut akan mengikuti konvensi Demokrat, seperti Marzuki Alie dan Pramono Edhie. Menurut Anda, siapa pesaing kuat?
Kita lihat sama-sama nanti calon mana yang paling kuat. Sekarang ini, beberapa lembaga survei telah banyak melakukan polling survey dan hasilnya masih in-progress. Masing-masing dengan karakteristik yang berbeda dan menarik.

Belakangan, Anda sering blusukan ke pasar-pasar. Itu bagian dari program pencitraan Anda untuk capres?
Perlu digarisbawahi bahwa kunjungan ke pasar merupakan program Kementerian Perdagangan, yang merupakan tupoksi saya sebagai Menteri Perdagangan.

Berita mengenai kenaikan harga bahan pokok, daging sapi, bawang merah, cabai merah dan cabai rawit terus disorot media. Jadi, tentunya pemerintah harus turun untuk memantau langsung, dan memang sudah seharusnya saya mengecek langsung ke pasar-pasar. Selain itu, mengadakan pasar murah agar harga bisa terjangkau oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat yang tidak mampu.

Coba dilihat definisi pencitraan yang seperti apa. Karena, saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan dalam kondisi seperti ini. Begitu pula dengan kebijakan-kebijakan yang saya keluarkan, merupakan kebijakan yang mendukung hilirisasi dan industrialisasi.

Apakah sudah ada pembicaraan dengan SBY terkait keinginan Anda untuk maju sebagai capres?
Belum ada pembicaraan secara formal. Presiden sempat ngobrol sama saya, seperti biasa kalau sedang sidang kabinet atau pertemuan. Tapi, tidak spesifik mengenai pencapresan. Saat ini, beliau mengharapkan siapa pun pemimpin yang akan datang, yang paling penting adalah membawa kebaikan lebih bagi bangsa dan negara. Potensi negara kita luar biasa.

Seandainya terpilih menjadi calon presiden dari Partai Demokrat, apa visi dan misi Anda dan apakah sudah menyiapkan calon wakil presiden?
Saya tidak mau berasumsi secara dini. Apalagi untuk membicarakan mengenai calon wakil presiden. Karena, hingga saat ini belum ada permintaan resmi yang diajukan oleh Partai Demokrat kepada saya.

Bagaimana Anda melihat sosok pemimpin di masa depan?
Ke depan, saya melihat, sosok yang memimpin Indonesia ini semestinya yang harus membanggakan. Bukan hanya buat kita, tapi bagi anak-anak dan cucu kita. Dia harus mengerti permasalahan dalam negeri dan bagaimana menyelesaikan permasalahannya. Selain itu, bisa memproyeksikan "bungkusan" ini ke komunitas internasional dengan cara yang membanggakan. Baik itu laki-laki maupun perempuan. Saya rasa itu kriteria mutlak yang harus dipilih. Terlepas dari konvensi, terlepas dari apa pun.(np)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
skyediting
14/08/2013
kl solusinya "hanya mengimpor" anak TK pun bisa memberikan solusi macam itu bung, sebaiknya kl mau ikut konvensi pikir2 dulu lah, kasihan kl menang konvensi pun ntar pas PEMILU rakyat gak milih, kan percuma, mendingan kerja aj yg benar biar harga2 stabil.
Balas   • Laporkan
anxerman
06/08/2013
Kebijakan bodoh... emang kalau gk makan daging orang indonesia mati semua?? masih ada tempe, tahu, ayam, dsb... import buang2 uang negara merugikan rakyat... emangnya rakyat kecil makan daging????
Balas   • Laporkan
wewew
25/07/2013
harga daging dan jengkol cocok utk dibicarakan di konvensi demokrat daripada bahas capres cawapres..
Balas   • Laporkan
Karto90
23/07/2013
Persoalan sederhana kok rakyat jd korban, jadi deh kita tahu KUALITAS MENTERI yang ada....PAYAAAAH !!! Banyak oong iy orang......kurang kerja ! Mulai ketularan poltiikus.....
Balas   • Laporkan
gentongnasi
22/07/2013
kenapa kasih ijin impor bulog sampai 3 bulan? sederhana di mana? jangan nato lah.
Balas   • Laporkan
gondes
22/07/2013
Kalau mudah kenapa sdh ber bulan2 hrg daging tetap tinggi hingga memakan korban presiden PKS. Jangan omdo lah...tapi take action.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com