WAWANCARA
ANALISIS
"Kami Percaya Luthfi Hasan Ishaaq Korban"
"Saya tak bisa tunjuk lembaga tertentu, tapi kami merasa ada tirani".
Selasa, 5 Februari 2013
Oleh : Suryanta Bakti Susila, Nila Chrisna Yulika
VIVAnews –Jumat, 1 Februari 2013, Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera mengangkat presiden baru, Muhammad Anis Matta. Ia menggantikan Luthfi Hasan Ishaaq yang mengundurkan diri lantaran terjerat kasus suap impor daging sapi di Kementerian Pertanian.

Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 7 Desember 1968 ini sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal PKS hampir empat periode berturut-turut, sejak 1998-2013. Penunjukan ini menempatkan Anis Matta menjadi presiden kelima PKS setelah Nurmahmudi Ismail, Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring dan Luthfi Hasan Ishaaq.

Ayah 9 anak ini menghabiskan pendidikan dasar hingga menengah di Makassar dan melanjutkan pendidikan tinggi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), Jakarta. 

Sebelum berkiprah di partai politik, Anis menjadi pengajar ekonomi Islam dan trainer pengembangan diri. Pada 2001, Anis mendapat kesempatan mengenyam kursus di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) pada 2001.

Aktivitas di DPR dimulai setelah terpilih pada pemilihan umum 2004. Di periode keduanya di DPR, 2009-2014, Anis menjadi Wakil Ketua DPR yang membidangi ekonomi dan keuangan. Jabatan itu membuatnya kerap berurusan dengan Badan Anggaran (DPR) yang belakangan menjadi sorotan.

”Saya orang otodidak senang mempelajari apa saja dan membaca apa saja,” kata Anis dalam sebuah kesempatan kepada VIVAnews.

Bagaimana Anis Matta menakhodai partai yang tengah diterpa badai “SAPI” setelah kasus Luthfi ditangani KPK? Saat memberikan pernyataan politik setelah ditunjuk sebagai Presiden PKS, Anis langsung bersuara lantang. Ia menuding ada konspirasi besar yang bertujuan menghancurkan partai. Konspirasi itu bukan menyasar orang perorang. Lebih dari itu, eksistensi PKS.

Lebih dalam bagaimana dia memandang permasalahan yang tengah mendera partai, wartawan VIVAnews, Nila Chrisna Yulika mewawancarainya usai acara pengumuman pengangkatan presiden PKS yang baru. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Anda menjelaskan kasus yang membelit Luthfi Hasan kepada para kader?

Partai akan mengambil langkah hukum, namun tidak bisa dijelaskan detail saat ini. Partai akan mengikuti seluruh proses ini dan partai membaca terjadinya politisasi proses hukum. Sudah banyak kejanggalan dalam proses hukum ini, oleh karena itu, kami percaya Luthfi Hasan Ishaaq adalah korban.

Maksud Anda Luthfi Hasan Ishaaq korban?

Selama ini proses penerapan hukum di Indonesia dijadikan sebagai alat perang dalam dunia politik. Hal seperti itu biasanya terjadi ketika partai terlibat dalam situasi politik yang tidak terlalu normal seperti sekarang ini. Saya kira itu yang kami rasakan dalam kasus ini. Ada konspirasi besar yang bukan membidik orang perorang tetapi ingin menghancurkan eksistansi partai sebagai sebuah gerakan, sebagai sebuah organisasi.

Dalam sebuah proses hukum yang selama ini berlangsung,  publik meyakini penggunaan hak secara abuse seperti itu sering terjadi. Tetapi saya tidak akan masuk dalam persoalan ini, karena sudah terjadi dan saya ingin membiarkan proses hukum ini berjalan seperti biasa. Kepentingan saya sebagai presiden baru PKS menjadikan kasus ini sebagai momentum kebangkitan di PKS. Mungkin selama ini ada keteledoran dan partai harus bangkit. Saya kira konspirasi inilah yang menyadarkan kami untuk bangkit.

Siapa yang membuat konspirasi besar itu?

Saya  tidak bisa menunjuk lembaga tertentu, tapi kami merasa ada unsur tirani. Saya hanya mengungkapkan perasan saya dan seluruh pengurus PKS dan  kader-kader bahwa ada upaya sistematis dan diam-diam yang bertujuan menghancurkan PKS. Ini hanya salah satu tandanya, mungkin masih akan ada lagi setelah ini.

Saya tidak sedang mengumumkan perang kepada pihak tertentu, baik orang ataupun lembaga.

Tidak relevan bagi saya sebagai presiden baru PKS untuk membuktikan konspirasi itu. Namuni tugas saya adalah memberikan persepsi kepada kader-kader dan konstituen PKS bahwa ini yang sedang kami alami.

Apakah pernyataan bahwa ada konspirasi dibalik penangkapan Luthfi Hasan tidak kontraproduktif dengan komitmen PKS yang mendukung pemberantasan korupsi?

Hubungan kami dengan Luthfi adalah hubungan persaudaraan. Mungkin anggota keluarga kami yang salah, tapi tidak merusak kepercayaan kami,  tidak merusak kekeluargaan kami. Karena ada mekanisme perbaikan. Saya tidak dalam mengatakan beliau salah atau beliau benar, tetapi saya meletakkan konteks peristiwa ini dalam situasi makro yang kami alami, yang kami baca bahwa di awal tahun politik ini tiba-tiba ledakan ini terjadi. Itu yang saya katakan.

Saya juga ingin memisahkan persoalan hukum dan emosional. Saya telah bersama saudara saya, Luthfi Hasan Ishaaq, sejak mendirikan partai ini sampai semua peristiwa ini terjadi. Ini semua tidak akan membuat kami semua melupakan beliau, karena itu saya perlu menyatakan perasaan cinta saya kepada beliau supaya kita mengetahui dan belajar dewasa sebagai sebuah bangsa dalam mengelola perasaan-perasaan kemanusiaan.

Seberapa besar kader yang percaya bahwa Luthfi Hasan memang bersalah dalam kasus ini?

Mereka tidak kehilangan kepercayaan. Seperti yang saya katakan tadi.

Bagaimana agar kasus ini tidak terulang menimpa kader lain sehingga PKS bisa mengembalikan citra sebagai partai bersih. Apa strateginya?

Saya belum bisa menjelaskan strateginya, tapi langkah pertama adalah melakukan pertobatan nasional. Saya percaya bahwa tidak bisa melakukan perubahan hakiki, tapi akan bisa jika dari dalam diri.

Bagaimana pelaksanaan pertobatan nasional itu?

Saya ingin kembali pada akar sejarah, bahwa kami adalah kekuatan perubahan yang baru di awal reformasi. Mungkin saja dalam proses ini kami menemui banyak keteledoran, mungkin saja. Tetapi tiba-tiba sebuah teguran besar datang dan teguran ini membangunkan kami. Karena itu saya katakan tadi, ini awal kebangkitan baru PKS dan dimulai dari pertaubatan nasional. 

Ini adalah momentum karena selama ini kami tidak mengerti persoalan Pak Luthfi. Kami ketawa ketiwi dari siang, tidak tahu ada masalah. Tiba-tiba peristiwa ini terjadi walaupun kami mencium ada konspirasi semacam ini, tetapi kami tidak akan menyangka itu terjadi sejauh itu. Ini semacam introspeksi dari dalam diri sendiri. 

PKS menargetkan 3 besar di pemilu 2014, bagaimana mengejarnya setelah ada kasus ini?

Kami percaya bisa masuk 3 besar. Total kecukupan kader, struktur kami bagus, dan saya kira kami tumbuh secara terus menerus. Insya Alloh PKS akan terus bertumbuh.

Pengamat politik memprediksi partai Anda bakal ditinggalkan simpatisan sehingga kehilangan suara di pemilu 2014 mendatang?

Pemilu masih jauh, saya tidak memikirkan pemilu. Saya fokus pada pembenahan internal. Tadi saya sudah statement.

Apa yang membuat Anda percaya diri mengemban amanah dalam situasi yang sulit ini?

Saya percaya diri karena yakin didukung seluruh pengurus dan kader PKS. Dukungan ini yang membuat kami kuat.

Anda pernah dipanggil menjadi saksi dalam sebuah kasus. Hal itu membuat sejumlah pengamat politik ragu Anda bisa mengembalikan citra bersih partai ini. Bagaimana tanggapan Anda?

Rumah saya tidak pernah digeledah, dan rumah itu belum jadi. Masalah tuduhan seperti ini akan kami hadapi.

Setelah kasus ini, muncul suara-suara agar PKS keluar dari Setgab Koalisi, bagaimana tanggapan Anda?

Hubungan koalisi belum ditetapkan apapun, meskipun sudah mendengar dari pengurus untuk menarik menteri. Tapi suara itu sangat kencang setelah peristiwa ini, tapi kami belum membahas sama sekali. Itu domain Majelis Syuro. Tidak ada rencana, tapi suara-suara itu kencang.

Kantor PKS di Jawa Tengah dicoret orang dan ditulis SAPI. Spanduk melecehkan beredar di Yogyakarta. Apa imbauan Anda terhadap kader-kader daerah menghadapi tindakan seperti ini?

Kami tidak perlu bereaksi.

Betulkah Ahmad Fathana yang menerima uang suap impor sapi itu bukan anggota PKS dan cuma teman lama  Luthfi Hasan?

Tanyakan saja ke beliau (Luthfi Hasan Ishaaq).

Sebagai teman dekat Luthfi Hasan, anda pernah tahu Ahmad Fathana?

Tanya beliau (Luthfi Hasan Ishaaq). Yang jelas dia bukan kader. Sekarang itu bukan urusan saya. (sj)


 

TERKAIT
TERPOPULER