WAWANCARA KHUSUS

Pendiri Partai Keadilan Yusuf Supendi

"2014, PKS Hancur Lebur"

Yusuf menunjuk sejumlah elit PKS sebagai biang keroknya.

ddd
Selasa, 5 Februari 2013, 09:45
Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan
Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan (Antara)

VIVAnews - Ditangkapnya mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan Ishaaq, karena kasus dugaan suap impor daging sapi membuat publik kembali menyimak peringatan dari Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan --cikal bakal PKS.

Selaku generasi pertama partai itu, Yusuf dan rekannya pernah berjasa besar membentuk semacam "enclave" kelompok intelektual, yang lalu menjadi kader-kader partai di kampus. Mereka kerap disebut kelompok harakah. Dia juga pelopor gerakan tarbiyah yang menjadi pioner terbentuknya PKS.

Yusuf terlibat intens dengan partai itu. Dia turut mendirikan Yayasan Ma'had Al Hikmah di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, yang pernah menjadi markas besar PKS.

Tapi, pengabdiannya "terhenti" ketika Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin, mengeluarkan Surat Keputusan pemecatan dirinya pada 29 Desember 2009. Yusuf menilai itu tindakan sepihak. Ia pun mengajukan gugatan hukum.

Kritiknya kerap membuat merah muka para elit partai, meskipun dia mengenal baik mereka semua. Hilmi Aminuddin, misalnya, pernah bersama Yusuf menuntut ilmu di Saudi Arabia waktu mereka berdua masih belia. Luthfi Hasan Ishaaq adalah murid, dan Anis Matta diakui Yusuf sebagai mahasiswanya. 

Dia dengan lugas membongkar borok di partai itu, terutama sejak berganti baju dari Partai Keadilan menjadi PKS. Semua kritiknya pada elite PKS, termuat dalam buku "Replik Pengadilan, Yusuf Supendi Menggugat Elite PKS" yang diterbitkan Penerbit Komunitas Bambu, Jakarta, tahun lalu.

Tertangkapnya Luthfi kini seakan membenarkan apa yang dicemaskan oleh Yusuf tentang kondisi internal partai itu. Ditemui VIVAnews di kediamannya, Jalan Lapan V, Pekayon, Jakarta Timur, Minggu 3 Februari 2013, pria berambut putih ini tampak bersahaja dengan sarung dan kemeja batik. Suaranya tenang, dan terukur. Lalu apa kata Yusuf soal nasib partai itu di tangan Anis Matta kelak. Simak petikan wawancara itu:

Anis Matta terpilih sebagai Presiden PKS yang baru. Banyak suara yang skeptis dia bisa mengubah partai itu lebih baik. Pendapat Anda?

Kamis (31/1) malam sebelum ada keputusan Anis terpilih, saya menyatakan, bila petinggi PKS berpikir untuk kemaslahatan dakwah, dan masa depan partai, seharusnya memilih Hidayat Nur Wahid. Tapi bila berdasarkan kepentingan, maka yang akan dipilih adalah Anis Matta.

Ternyata, penentuan Anis Matta ini bukan melalui Majelis Syuro, tapi melalui Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPTP) yang berisi 6 orang, termasuk Luthfi. Karena Luthfi ditahan maka Lutfhi tak ikut. Hanya lima orang. Yang lima orang ini, tiga orang yakni Hilmi, Luthfi, dan Anis Matta, tiga sejoli yang tidak bisa terpisahkan.

Saya pribadi tahu skandal kejahatan demi kejahatan, dan saya sudah tulis 8 kejahatan PKS. Macam-macam kejahatan, di antaranya termasuk kejahatan dalam rangka nyari duit. Saya sudah melaporkan ke KPK. Ketika itu saya laporkan bahwa Anis Matta telah melakukan penggelapan uang Rp10 miliar pada tahun 2008 terkait pemilukada DKI, Adang Daradjatun. Ini bisa dibilang bagian kejahatan. Sebanyak Rp40 miliar diserahkan Adang, diambil 1 koper oleh Anis Matta berisi Rp10 miliar.

Ketika panitia pemilukada butuh uang, ditanyakan mana lagi uang pemilukada. Setelah didesak-desak ternyata diambil sama Anis Matta. Akhirnya Dewan Syariah Wilayah DKI melakukan investigasi, setelah dilakukan investigasi terjadilah pembelaan PKS atas Anis Matta. Saya tidak sebut ini korupsi, tapi
penggelapan.

Kenapa dilaporkan ke KPK? Sebab dia pejabat negara, anggota DPR. Itu bagian kejahatan, termasuk juga pada saat itu saya laporkan Hilmi Aminudin, ketua Majelis Syuro. Lihat bantahan elit PKS di sini.

Berarti praktik korupsi seperti itu sudah lama terjadi?

Itulah yang saya katakan. Padahal di dalam partai ini terdapat ulama-ulama. Saya sudah kritik keras, tapi ulama-ulama di dalam partai tidak berkutik menghadapi skandal Hilmi, skandal Luthfi, Anis Matta, tidak bisa ngomong. Makanya bahasanya saya bilang membiarkan kemungkaran berlarut.

Kenapa para ulama di elite partai itu tak bisa berkutik?

Hilmi kan keras, radikal, karena dia orang NII. Kemudian teman-teman ini ada dua kemungkinan. Pertama, cari aman, lalu cari selamat. Dan kedua, takut terancam masa depannya. Jadi lebih baik mereka bungkam.

Karena itu, saya katakan, penetapan Anis Matta ini penetapan tergesa-gesa. Tergesa-gesa itu merupakan perbuatan setan. Itu didominasi kepentingan politik praktis. Coba kalau bersabar, mungkin dilakukan munas, musyawarah darurat dan seterusnya. Paling tidak dikumpulkanlah seluruh anggota Majelis Syuro, dibahas tentang Luthfi bukan dengan DPTP yang tinggal 5 orang itu.

Saya sudah bikin pernyataan, lebih tepat kalau yang dipilih Hidayat Nur Wahid. Tapi kalau dikatakan paling tepat juga tidak. Bahasa saya relatif, agak relatif layak Hidayat Nur Wahid menjadi Presiden. Kenapa relatif layak, karena dia juga sudah banyak berubah.

Bukannya aturan AD/ART tak membolehkan kader yang sudah pernah jadi presiden dipilih lagi?

Nggak ada aturannya, masih bisa. AD/ART yang mana? Mereka sekarang pilih orang berdasarkan rekayasa, bukan hati nurani.

Dengan kondisi kerusakan sekarang, apakah Anis mampu mendongkrak citra partai?


Saya katakan kondisi PKS ini tidak ubahnya seperti ikan dalam kolam sabun. Bisa dibayangkan ikan dalam kolam sabun, mabuk. Karena itu pertanyaan saya, apakah Anis Matta mampu menyelamatkan ikan yang dalam kolam sabun itu. Saya kira tidak akan mampu.

Anda pernah mengatakan tak kaget kalau Luthfi Hasan ditangkap KPK. Mengapa?

Kenapa kaget, saya sama sekali tidak kaget karena sudah dua jilid kasus impor daging sapi ditulis majalah Tempo. Jilid 1 ditulis Maret 2012, Jilid 2 Juni 2012. Tapi Jilid 1 dan 2 tidak ada Luthfi.

Uniknya, yang jilid ketiga baru ada Luthfi. Tapi keunikannya sudah terjawab, pada jilid ketiga ada pengusaha dari Palembang yang bernama Sengman. Sengman itu dengan Ridwan, anak Hilmi, masuk dalam bisnis impor daging, dan saya yakin dia masih aktif. Karena bulan April 2012, ada rekanan Ridwan datang ke sini. Jadi ada seseorang, bukan rekanan. Jadi Ridwan ini kan alumni Nurul Fikri, kemudian dia punya temn orang Nurul Fikri juga. Kemudian temannya ini punya adik, adiknya teman anak saya. Dia cerita ke saya bahwa kakak dia ikut bisnis dengan Ridwan. Saya pesan, 'bilangin sama ibu ente khawatir apes nanti. Kalau apes kakak ente susah ikut bisnis sama Ridwan'. Jadi saya punya info kuat dia ikut impor daging.

Hilmi itu orang pertama di partai, Luthfi kedua, maka saya sah-sah saja menduga dia aktor intelektual, sutradaranya. Karena itu KPK jangan segan-segan menangkap Hilmi dan Anis Matta, jebloskan ke Guntur.

Anis Matta menyatakan kasus Luthfi karena ada konspirasi?

PKS itu seperti ikan dalam kolam sabun. Pusing, mabuk. Kalau dikatakan ada konspirasi ya sah-sah saja. Tapi ini perlu ada alat bukti, kejelasan. Justru dengan pernyataan ini, pidato PKS sangat cocok untuk kadernya sendiri. Kalau ditujukan ke publik, maka tak etis ini membuka front. Justru menambah rasa tidak percaya. Itu tuduhan luar biasa sangat tidak relevan. Publik
sulit diyakinkan untuk percaya. Ketidakpercayaan publik pada PKS itu seperti pohon sudah jadi papan, dan papan tak mungkin ditanam lagi. Jadi sangat parah.

Kalau partai lain lebih dominan korupsi, ini (PKS) suap. Dalam Islam korupsi sama dengan mencuri, hukumannya potong tangan. Tapi suap, Rasul mengatakan dilaknat dari ubun-ubun sampai kaki.

PKS menyatakan pertobatan nasional ...

Nah itu maksudnya apa? Saya kira tidak perlu tobat nasuha. Yang penting bertiga itu Hilmi, Luthfi, Anis bertobat mengakui kesalahan. Kalau Hilmi mengundurkan diri dari ketua Majelis Syuro nanti yang lain tobat sendiri. Kalau tobat nasional, kesannya yang lain ikut salah.

Jujur, banyak yang tidak suka kepada Anis Matta. Kalau di kalangan kader sendiri dia tidak bisa meyakinkan, tugas Anis akan tambah berat untuk memulihkan kepercayaan publik.

Dari cerita Anda, elit partai sekarang ikut menjadi "pemain"?

Yang parah selain main duit, main wanita juga. Terlepas itu siapa Ahmad Fathanah yang menurut mereka bukan kader, bukan pegawai DPP, bukan staf ahli, aspri, tapi publik tak percaya itu. Yang penting di kasus suap menyuap daging sapi, di situ juga ada wanita 19 tahun. Ini jelas masalah moral. Kalau
partai lain korupsi 10 orang goyahkan partai. Ini presiden partai yang jadi standar moral, ada wanita lagi.

Sejumlah kader partai mengatakan kasus penangkapan itu janggal ...

Saya kritik Hidayat Nur Wahid. Saya bikin pernyataan saya sangat menyayangkan Hidayat ceroboh bikin pernyataan, "ini tahun sandera". Kenapa tahun disalahin, kalau salah, ya salah saja. Perlu dicatat ini kejadian pertama luar biasa, Presiden partai jadi tersangka dan diburu, bukan ditangkap saja. Yang lain kan urutannya saksi, tersangka, ditahan. Ini diburu, kemudian ada plus partai dakwahnya,  ada perempuannya. Lebih parah dari yang lain, istilah saya PKS bisa gulung tikar.

Bisa diceritakan bagaimana PKS dibangun dulu?

Partai Keadilan (PK), kemudian jadi PKS secara bertahap. Awal mula PKS bergeser, mungkin kalau dihitung tahun politik, periode 2004-2009. Tapi 2009 ke sini mulai berubah. Beda ya antara bergeser dan berubah. Berubah itu di antaranya dalam hal tujuan. Dulu PK itu tujuannya berdakwah beri hidayah kepada orang-orang. Tapi sekarang tujuannya kursi, dan uang. Saya kira berubah kursi... uang, kursi... uang.

Jadi soal uang yang buat PKS berubah?

Salah seorang dai kondang, pada November 2012 bertanya dua pertanyaan kepada saya. Pertanyaannya kenapa PKS rusak? Kedua, siapa yang merusak? Saya bilang  PKS rusak karena tiga hal: uang, kekuasaan, dan gengsi. Tiga hal itu, siapa yang merusak? Yang merusak juga tiga, Hilmi Aminudin sebagai sutradara dan aktornya, Luthfi Hasan dan Anis Matta sebagai operatornya.

Melihat kondisi partai seperti itu, apa Anda pernah mengingatkan para tokoh lain di dalam partai?

Ketika acara di tvOne, Almuzzammil Yusuf (kader PKS) mengatakan kader PKS melakukan dua pilihan. Ada yang pilih memperbaiki di dalam, ada yang di luar. Saat itu saya langsung saya klarifikasi, enam tahun saya sudah melakukan perbaikan dan kritisi di dalam. Tulisan saya (kritik) 20 jilid, ada 1.500 halaman. Saya dengan SK (pemecatan) yang tidak sah disuruh pilih di luar. Saya pesan ke Almuzzammil, "Bilangin ke elit PKS, Yusuf Supendi jangan diharap diam atau bungkam dengan adanya kemungkaran".

Kritik itu pernah disampaikan langsung ke elite partai?

Dalam surat yang jumlahnya 1.500 halaman itu, saya kirim ke semua anggota Majelis Syuro.

Kenapa kader lain tidak berani mengingatkan?

Sebab terjadi pembentukan opini bahwa orang yang melawan jamaah, orang ke luar dari partai hidupnya akan susah. Ini padahal urusan aqidah. Jadi kalau orang mengkritisi, dipecat, hidup susah. Ini sudah nggak benar, ini aqidah. Jadi mereka nggak mau kritis karena takut dipecat. Kalau begini orang pikir-pikir masuk PKS.

Tapi gara-gara kritik, Anda malah dituding pengkhianat...

Saya sudah 6 tahun berusaha menyelesaikan di partai. Akhirnya saya dipecat walau  tak sah, dan saya lakukan hal itu  (kritik) setelah dipecat.  Justru mereka tidak obyektif. Tanggal 20 Mei 2012,  Profesor Achmad Satori pernah bilang ke saya, "Ustaz Yusuf guru saya, mohon jangan terus menerus menyerang PKS karena masih banyak yang baik-baik". Saya bilang hukum harus punya alat bukti. Buktikan di mana , jam berapa saya serang PKS, buktikan karena saya tak serang PKS. Yang saya lakukan mengkritisi. Kalau saya dibilang menyerang, menyerang individu. Kemudian kalau berimplikasi pada PKS itu urusan lain.

Saya sampaikan kepada Profesor Satori, selama ada kemungkaran, kedzaliman,  jangan harap Yusuf Supendi bungkam. Kemudian saat ketemu Almuzzammil Yusuf, saya bilang "sampaikan kepada bos ente, sampai mati Yusuf Supendi tidak akan diam selama adanya kemungkaran, dia diam saja". Jadi mau dibilang pengkhianat masa bodoh, yang penting saya perangi kemungkaran.

Apa sebab elite partai berubah dari dakwah ke soal kesejahteraan?

Memang sangat berubah, dulu kan kader-kader ke mana pergi bawa Alquran baca. Dulu zaman saya jangankan naik pesawat, ke Surabaya saya dua bulan sekali naik bus kereta. Sekarang elit PKS tidak mau naik pesawat Lion, dia mau pergi kalau pakai Garuda. Itu sangat berubah. Dulu rapat di rumah saya, rumah saya ini saksi bisu, karena rumah saya besar tahun 1995 sudah tiga tingkat. Dulu Hilmi tiap minggu ke rumah saya. Jadi kalau dulu rapat di rumah, makan sederhana.

Betulkan ada faksi keadilan dan faksi kesejahteraan dalam PKS?

Sejarah perlu diluruskan. Saat terjadi ketegangan di jajaran anggota Majelis Syuro antara yang memilih Amien Rais dan Wiranto, maka beredar istilah kubu Kali Malang (merujuk tempat tinggal Hilmi Aminuddin) Hilmi-Wiranto. Yang kedua kubu Mampang (kantor DPP sebelum pindah ke TB Simatupang), yakni Hidayat Nur Wahid-Amien Rais. Tahun 2005, salah satu dari pendiri PK melontarkan istilah "kubu keadilan" dan "kubu kesejahteraan".

Saat saya melaporkan indikasi penyalahgunaan dana Bansos di pemerintahan Jawa Barat sebesar Rp836 miliar, sebuah majalah, kalau tidak salah Kontras, dalam covernya menulis "Yusuf Supendi Pencari Keadilan Vs Ahmad Heriawan Pencari Kesejahteraan".

Jadi dua kubu ini memang ada?

Ada, terlepas dari namanya kubu keadilan itu di Majelis Syuro sekitar 20 persen, mereka Hilmi, Anis Matta dan lain-lain. Kubu keadilan sekitar 70 persen, antara lain saya, Hidayat Nur Wahid, Irwan Prayitno, Mashadi, Abu Ridha.

Sekarang kubu-kubu ini masih eksis?

Sekarang acak-acakan. Perang dingin antara kubu ideologis (keadilan) dan pragmatis (kesejahteraan). Kubu Kali Malang berkembang dengan istilah kesejahteraan dan berlanjut dengan istikah pragmatis. Pada dasarnya jumlah mereka relatif kecil, namun mereka menguasai struktur dan menyalahgunakan wewenang. Kubu ideologis relatif besar, namun kebanyakan cari selamat dan aman, memilih di luar.

Anda senang kasus Luthfi terbongkar?

Saya tidak pernah menyatakan senang. Biasa-biasa saja. Saya tidak pernah katakan suka. Saya sedih bagaimana pun Luthfi murid saya,  Anis mahasiswa saya. Tapi kejadian ini yang mendorong bahwa saya lebih yakin dengan Alquran dan hadis, bahwa orang dzalim akan dihancurkan Allah. Rasul mengatakan kaum mukmin seperti sebatang pohon kurma apabila ditanam dan dipupuk, 7 tahun kemudian baru berfungsi pupuknya. Kalau orang, nyatakan kebenaran langsung instant atau diterima baru 7 tahun kemudian. Saya sudah ingatkan 7 tahun lalu, bahwa kedzaliman akan terbongkar, tidak mesti instant, bisa 7 tahun kemudian. Ini bukan urusan suka dan tidak suka, yang penting saya suarakan kebenaran, mau dibilang pengkhianat masa bodoh, mau dibilang senang masa bodoh.

Menurut Anda, apa yang harus dilakukan PKS untuk memulihkan citra?

Kita kembali pada sejarah, Bani Israil dilaknat dan dimurkai Allah. Penyebab utamanya, di antara satu dengan lain membiarkan kemungkaran. Jadi pertama, perbaiki muaranya dulu. Saya kira Luthfi tinggal tunggu waktu tersangka, terdakwa terpidana. Tinggal dua orang lagi, dua orang ini melakukan pelanggaran baiat, kedustaan. Mereka itulah yang menyebabkan banyak ulama di partai pada bungkam tak mau ngomong, cari selamat. Kalau mau Hilmi dan Anis Matta harus tanggungjawab, karena sudah melakukan kemungkaran.

Siapa tokoh PKS yang menurut Anda bisa dijadikan panutan sekarang?

Dulu yang diharapkan Hidayat, sekarang dia bagian dari mereka, ya nggak bisa. Dulu yang bisa jadi panutan Ustaz Abdul Hasyim, dia sudah nggak mau.

Jadi, sekarang makin berat untuk membangun kembali citra partai?

Sangat berat dari segi apapun. Ini merupakan ancaman di 2013. PKS bisa gulung tikar kalau tak sampai 2/3 persen bubar. Kader sudah begitu sudah parah, publik tidak percaya, siapa yang mau pilih PKS. Fakta sejarah pemilukada di Banten suara PKS 1/3, di Jakarta 1/3 juga.

Pemilukada Jabar akan jadi test case setelah kasus ini?

Saya dengar di TV, Deddy Mizwar mau mundur. Kalau dia mundur hancur PKS. Secara pribadi saya kenal, kewajiban saya beri nasihat agar tidak berpikir jadi cawagub. Sebaiknya mundur.

Pemilu 2014 nanti kira-kira berapa suara yang hilang?

80 Persen. PKS hancur lebur. Punah.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
trisnoiz.mangkusumo
04/05/2013
para ustad kalo dah jadi kaum elit kejam.... mndingan yang ngurusin umat di masjid-masjid
Balas   • Laporkan
jerys
08/02/2013
Marilah kita seluruh Umat Islam kembali ke Politik Islam! Apa sih POLITIK? POLITIK ARTINYA ADALAH MEMELIHARA DAN MENGATUR URUSAN UMAT/RAKYAT. Jadi Politik Islam adalah Memelihara dan mengatur urusan umat/rakyat dengan HUKUM-HUKUM ALLAH yakni Syariat Islam
Balas   • Laporkan
al-ghozali
08/02/2013
Yusuf Supendi hanya berdoa.... karena doa orang yang terdzolimi pasti dikabulkan oleh Allah swt... HATI-HATI BAGI YANG SUDAH MENDZOLIMINYA....
Balas   • Laporkan
adabaiknya
07/02/2013
Astaghfirullah ..beginikah mantan ulama sekaliber pendiri PKS ?? berbicara penuh kebencian dimana fakta dilapagan tdk seperti yg dituduhkan..ingat usia pakde ??? yok ikutan tobat nasional ..hehehe
Balas   • Laporkan
joniucok
06/02/2013
Bravo Pak Yusuf. Banyak kader PKS spt anak buah gusdur apapun fakta bila dianggap negatif akan ditolak oleh para layalis membuta.
Balas   • Laporkan
skinhead
06/02/2013
keterlaluan pak Yusuf, mendahului takdir Alloh...emangnya pak Yusuf bisa menentukan Takdir
Balas   • Laporkan
suprafit
05/02/2013
Dah kaya Tuhan aja nich orang, apa dukun? Spt pemakan bangkai saudara sendiri, Ayatnya pasti dah hapal nich orang. Tobat nt sebelum siksa di dunia dan akhirat.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id