ANALISIS

Kolom Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo

Anggapan Keliru tentang Energi di Indonesia

Indonesia adalah negara yang kaya minyak, padahal tidak.

ddd
Kamis, 12 Januari 2012, 09:28
Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo
Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)

 

VIVAnews - Terdapat beberapa anggapan yang keliru mengenai energi di Indonesia. Di antaranya, satu, Indonesia adalah negara yang kaya minyak, padahal tidak. Kita lebih banyak memiliki energi lain seperti batubara, gas, CBM (Coal Bed Methane), panas bumi, air, BBN (Bahan Bakar Nabati) dan sebagainya.

Kedua, harga BBM (Bahan Bakar Minyak) harus murah sekali, tanpa berpikir bahwa hal ini menyebabkan terkurasnya dana pemerintah untuk subsidi harga BBM. Ketergantungan kita kepada BBM yang berkelanjutan serta kepada impor minyak dan BBM makin lama makin besar serta mempersulit energi lain berkembang.

Ketiga, investor akan datang dengan sendirinya tanpa perlu kita bersikap bersahabat dan memberikan iklim investasi yang baik. Dan yang keempat, peningkatan kemampuan Nasional akan terjadi dengan sendirinya tanpa keberpihakan pemerintah.

Data Potensi Energi Nasional 2010 (Sumber: ESDM  2011) menunjukkan bahwa cadangan terbukti minyak Indonesia tinggal 3,7 miliar barel. Justru, kita lebih banyak memiliki energi non minyak. 

Migas di Indonesia

Indonesia memproduksi minyak sebesar 345 juta barel, mengekspor minyak mentah sebesar 130 juta barel, mengimpor minyak mentah sebesar 103 juta barel dan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 124 juta barel pada tahun 2010 dan mengkonsumsi 423 barel. Terdapat defisit sebesar 97 juta barel per tahun. 

Cadangan terbukti minyak kita hanya 3,7 miliar barel atau 0,3% cadangan terbukti dunia. Sebagai negara net importer minyak dan yang tidak memiliki cadangan terbukti minyak yang banyak, tidaklah bijaksana apabila kita mengikuti kebijakan harga BBM murah di negara-negara yang cadangan minyaknya melimpah.

Data Produksi & Cadangan, Revenue, Cost Recovery, R/C dan Penerimaan Negara Migas (BP Migas 2010) menujukkan bahwa penemuan cadangan minyak sedikit sekali mulai tahun 2003. Akibatnya, produksi kita turun menjadi dibawah 1 juta barel per hari. Memang, biaya (cost recovery) meningkat dari tahun ke tahun berikutnya, tetapi harga minyak, gross revenue, revenue to cost ratio dan penerimaan negara juga meningkat dari tahun ke tahun berikutnya. 

Cadangan dan produksi minyak yang turun tidak dapat diinterpretasikan bahwa minyak kita sudah habis atau prospek eksplorasi di Indonesia rendah. Di Malaysia telah ditemukan prospek Kikeh di laut dalam dengan cadangan 1 miliar BOE (barrel of oil equivalent) sehingga laut dalam di Indonesia, terutama Selat Makasar menjadi perhatian perusahaan-perusahaan raksasa. 

Proyek-proyek raksasa LNG (Liquefied Natural Gas) di Australia yang sedang dikembangkan adalah Evans Shoal, Gorgon, Ichthys, Pluto, Browse dan Bay Undan, sedangkan di Indonesia hanya Tangguh. Perlu dicatat bahwa Australia termasuk low risk dan Malaysia adalah medium risk.  

Tingginya risiko di Indonesia mengakibatkan perusahaan-perusahaan migas hanya berkonsentrasi pada mempertahankan produksi lapangan-lapangan yang sudah ada, akibatnya produksi turun. Perlu usaha untuk memperbaiki keadaan tersebut dengan mengundang investor guna meningkatkan cadangan dan produksi migas di Indonesia. 

Konversi minyak

Produksi dan cadangan terbukti minyak kita turun terus. Walaupun cadangan terbukti gas kita empat kali lipat cadangan minyak tetapi program konversi minyak ke gas domestik tidak berjalan mulus. Program 10.000 MW PLTU (uap) batubara tidak berjalan mulus dan sebagian besar produksi batubara kita diekspor. PLTA (air)  di luar Jawa kurang berkembang. Program Bahan Bakar Nabati tidak berjalan seperti yang diharapkan.  PLTS (surya) dan PLTB (bayu) banyak yang tidak berfungsi lagi. Berarti ada yang tidak pas di Negeri ini. 

Marilah kita evaluasi satu per satu.  

Minyak kurang berkembang karena sistem fiskal dan iklim investasi yang kurang menarik. Gas kurang termanfaatkan untuk domestik karena harga domestik yang tidak menarik dan tidak disiapkannya infrastruktur di masa lalu. Batubara 10.000 MW kurang berkembang karena terdapat masalah negosiasi, birokrasi dan koordinasi. Kebanyakan batubara diekspor karena harga domestik yang kurang menarik dibandingkan harga ekspor. 

PLTA kurang berkembang karena masalah birokrasi, koordinasi, promosi dan kemauan politik untuk mengembangkan industri di luar Jawa. Panasbumi kurang berkembang karena harga domestik yang tidak menarik di masa lalu. Bioenergi kurang berkembang karena masalah harga, peraturan, insentif, birokrasi, koordinasi  dan litbang. Surya dan bayu tidak terawat karena kurang dikembangkan, di samping masalah birokrasi dan koordinasi. 

Konservasi kurang berhasil karena harga energi murah, soal peraturan (kurangnya insentif untuk penghematan energi), kurangnya transportasi umum yang baik, dan kurangnya dukungan bagi litbang, serta kurangnya peningkatan kemampuan nasional untuk itu. 

Menurut International Sustainable Energy Organization (ISEO) biaya energi terbarukan--seperti energi surya, energi angin, panasbumi, arus laut dan hidrogen--akan turun di masa depan. Sedangkan biaya PLTA akan naik (walaupun masih tetap rendah). Biaya energi tak terbarukan seperti minyak, gas, batubara dan nuklir akan naik di masa depan. 

Batubara bisa lebih bersih lingkungan, meski konsekuensinya biayanya lebih mahal. 

Tidak benar kalau energi nuklir sangat aman karena di samping peristiwa Chernobyl dan Three Mile Island, di Amerika Serikat 27 dari 104 reaktor nuklirnya pernah bocor (Tobi Raikkonen, 12 Maret 2010). Menurut USA Today 17 Juli 2007 di Jepang terjadi kebocoran nuklir 1997-2007 sebanyak 8 kali. Apalagi kemudian terjadi tragedi Fukushima (2011). Banyak negara Eropa yang akan menutup PLTN-nya pada 2020. 

Penanganan dan penyimpanan limbah uranium yang benar adalah mahal dan kalau tidak benar berbahaya. Perancis bisa membantu memproses limbah uranium, tetapi limbah terakhirnya tetap dikirim ke negara asal yang mempunyai PLTN.

Andaikata nuklir ingin dikembangkan segera maka paling cepat  dioperasikan pada 2021 karena memerlukan 10 tahun untuk merealisasikan PLTN seperti di Malaysia. Sebaiknya, Indonesia bekerja sama dengan Singapura dan Malaysia--lebih baik bila juga dengan negara-negara ASEAN lainnya. Lokasi pembangkitnya bisa di pulau kosong di Indonesia, di dekat Singapura. Makin banyak negara yang mengawasi diharapkan makin aman. Makin banyak negara yang memakai, maka bakal makin murah. 

Yang perlu dilakukan

Kita masih bisa mencukupi kebutuhan energi sampai 2030 dengan menggunakan energi domestik (minyak, gas, CBM, shale gas, batubara, panasbumi, air, surya, angin, laut, biofuel dan biogas) serta mengembangkan kemampuan nasional untuk memproduksikan energi terbarukan dan konservasi energi. Bahkan, kalau perlu, mengimpor gas dan batubara (yang lebih murah dari BBM) serta mengusahakan migas di luar negeri. 

Diharapkan Pertamina dan perusahaan-perusahaan nasional migas lain dapat meningkatkan produksi migasnya baik di dalam dan di luar negeri, seperti Petronas. Di samping itu, perlu perbaikan sistem fiskal dan iklim investasi serta sistem informasi untuk meningkatkan investasi internasional migas di Indonesia. Terobosan teknologi (nano) menyebabkan energi terbarukan lebih murah di masa depan. Konservasi atau penghematan energi mengurangi pemakaian dan pasokan energi serta mengurangi polusi. Pemakaian mobil irit bensin seperti yang dihasilkan ITS dan penghematan energi lainnya perlu didukung dan dikembangkan secara nasional. 

Selain migas dan batubara perlu dikembangkan pengembangan energi fosil yang tak konvensional seperti CBM, shale gas, hydrate. Perlu pengembangan semaksimal mungkin dengan meningkatkan iklim investasi untuk panasbumi, batubara mulut tambang, panasbumi dalam, energi surya, bayu, bioenergi, laut, mikrohidro, di samping peningkatan kemampuan nasional serta penguasaan teknologinya.

Peningkatan kemampuan energi nasional wajib dilakukan. Dana dapat diperoleh dari penghematan yang diperoleh dari digantikannya BBM yang mahal dan sudah diimpor dengan energi lain yang lebih murah dan tersedia di dalam negeri (gas, batubara, panasbumi dan energi terbarukan lain). Sehingga, anjurannya bukan "jangan pakai BBM bersubsidi" tetapi sedapat mungkin "jangan pakai BBM sehingga subsidi minimum".

Ketika Harry Potter "selamat" dari Voldemore (musuhnya), Dumbledore (kepala sekolahnya): mengatakan: "Someday, you will have to choose between what is right and what is easy." Pilihan kita, mau "benar, tetapi walaupun sulit, berhasil di jangka panjang" atau mau "gampang tetapi tidak ke mana mana"? Yasadipura, kakek Ranggawarsita, mengatakan: "Waniya ing gampang, wediya ing pakewuh, sabarang nora tumeka. Sukailah kemudahan, takutilah kesulitan, maka tidak ada yang diperoleh."

***

Prof. Widjajono Partowidagdo, Ph.D., Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI 

 



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
setiaki
06/04/2012
MASALAH TIDAK AKAN MUNCUL APABILA PEMERINTAH SEJAK AWAL MAU TRANSPARAN DAN BERPIHAK PADA KEPENTINGAN RAKYAT ! RAKYAT TIDAK DEMO KETIKA PEMERINTAH ERA DULU MENAIKKAN BBM KARENA KONDISINYA DEMIKIAN, SEKARANG ALASAN PEMERINTAH TIDAK PAS DAN MENGADA-ADA !
Balas   • Laporkan
ronowidagdo
13/01/2012
Mestinya DPR jangan sibuk perbaikan toilet aja, bikin dong UU Sumber Daya Alam yg transparan dan memihak rakayat. Lah wakil rakyat cuma jualan pasal Undang2, kapan majunya ?
Balas   • Laporkan
anhar1961
13/01/2012
Yang utama adalah harus diingat, bahwa segala sumber daya yang ada di persada Indonesia ini bukan milik negara / pemerintah, tetapi milik rakyat. Negara atau pemerintah hanya pengelola. Kebijakan dalam pengelolaan tidak boleh memberatkan rakyat
Balas   • Laporkan
ronowidagdo | 13/01/2012 | Laporkan
Ah, doktrin anda itu kan teori doank ! Kenyataannya ? Mending skrg ada desentralisasi pemerintahan, sampai ke Bupati, tp gak sampe ke rakyat ! Lihat aja rakyat di Kaltim, Riau, Papua.. tetep aja mlarat ! Salah siapa ya ? ! Gak tau deh...


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com