WAWANCARA
ANALISIS
Sulitnya Meramal Gunung Sinabung
Kesalahan prediksi bisa berdampak sosial, dan menurunkan kredibilitas ahli gunungapi.
Rabu, 1 September 2010
Oleh : Nezar PatriaIrwan Meilano

VIVANews--Dapatkah kita menebak letusan gunungapi? Ketika mengikuti workshop gunungapi beberapa tahun lalu di kaki Gunung Avachinsky-Rusia, seorang vulcanologist USGS mengatakan cara termudah memahami sulitnya meramal letusan gunungapi adalah menonton film Dante's Peak. Saya kira dia benar.

Film itu berlatar letusan Mount St. Helens pada 1980. Diceritakan seorang pakar gunungapi Dr Dalton (Pierce Brosnan) menghadapi dilema berat.  Dia harus membuat prediksi, apakah gunungapi akan meletus, atau tidak. Ini soal serius:  soalnya ada warga yang wajib dievakuasi. Pekerjaan ini jelas tak mudah.
 
Dari catatan sejarah, kegiatan intensif gunungapi tak selalu berakhir dengan letusan. Krisis di Gunung Iwate (Jepang) pada 1998,  dan Gunung Baker (Amerika) tahun 1975, menunjukan adanya aktifitas kegempaan gunungapi yang signifikan. Tetapi kedua gunung itu tak berakhir dengan letusan.

Keputusan terlalu dini untuk evakuasi bisa berdampak serius secara sosial.  Kerugian material akan terjadi, karena warga harus mengungsi.  Selain itu, tentu saja kredibilitas  para ahli gunungapi turut dipertaruhkan. Kesalahan ramalan, dengan sendirinya menurunkan citra sang pakar di mata masyarakat.

Pada 1976, ada letusan Grande Découverte–La Soufrière. Para ahli gunungapi pun meramal: letusan akan dahysat, dan warga harus mengungsi. Maka, warga pun mengungsi berbulan-bulan. Keputusan itu benar. Tapi ternyata skala letusan tidak sedahsyat yang diduga. Jadi, sebetulnya evakuasi tidak perlu melibatkan seluruh warga.
 
Pertanyaan sulit lain dalam soal memprediksi letusan gunungapi adalah: apakah magma akan mencapai permukaan? Jawaban dari pertanyaan ini punya implikasi besar. Tak hanya soal keilmuan, tetapi juga sosial. Ribuan warga harus dievakuasi.

Dilema itu digambarkan dengan baik dalam film Dante's Peak oleh Pierce Brosnan. Sebuah dilema yang kerap dialami setiap vulkanolog, yang ketiban tugas melakukan prediksi untuk dipakai membuat keputusan evakuasi atau tidak.

Gunung Sinabung

Pada umumnya memprediksi letusan gunungapi jauh lebih mudah daripada meramal gempabumi. Tetapi ada dua prasyarat yang harus dipenuhi agar prediksi gunungapi bisa dilakukan.

Pertama, terdapat data geologis detail mengenai sejarah dan tipe letusan gunung  itu. Kedua, pengamatan aktifitas gunungapi dalam rentang waktu panjang. Pengamatan meliputi: kegempaan, deformasi dan perubahan fisis-kimia gunungapi (suhu, kandungan gas, dan lain-lain).
 
Kedua prasyarat dasar itu tidak terpenuhi untuk kasus Gunung Sinabung. Tidak ada data detail sejarah letusan. Gunung itu dikategorikan sebagai Gunungapi tipe B, maka dengan begitu tak ada data pengamatan aktifitas dari gunung itu.

Ketiadaan data dasar itu membuat letusan Gunung Sinabung minggu dini hari lalu bagaikan lonceng yang membangunkan kita semua. Bahwa kita harus memiliki data dasar dan pengamatan yang lebih baik, untuk gunungapi yang sebelumnya dianggap kurang berbahaya.

Kita ingat suatu dialog antara Linda Hamilton dan Pierce Brosnan di film Dante's Peak itu. Linda Hamilton: "I thought this was supposed to be an extinct volcano".  Pierce Brosnan : "Not extinct. Just dormant ... And your volcano might just be waking up".

Setiap gunungapi bisa bangun setiap saat. Data pengamatan yang baik bisa mencegah bencana kembali terulang.

DR Irwan Meilano adalah dosen Teknik Geodesi ITB, dan Tim Ahli Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana.

TERKAIT
TERPOPULER